RSS

PENGAMATAN GONAD SECARA HISTOLOG

PENGAMATAN HISTOLOGI GONAD IKAN


Oleh :
Leny Shara Anggelina Aritonang
150302063










MATA KULIAH BIOLOGI PERIKANAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA       


2017      




     

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah   yang berjudul “Pengamatan Histologi Gonad Ikan”. Makalah ini sebagai salah satu tugas mata kuliah Biologi Perikanan.
            Penulis mengucapkan terima kasih Ibu Dr. Ani Suryanti, S.Pi, M.Si selaku dosen mata kuliah Biologi Perikanan yang telah membantu dan mendukung sepenuhnya dalam penyelesaian makalah ini.
            Demikian yang dapat penulis sampaikan, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan makalah selanjutnya. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.


  Medan,   Juni  2017



Penulis  



                                                                        
DAFTAR ISI
                                                                                Halaman
KATA PENGANTAR............................................................................                i           
DAFTAR ISI...........................................................................................               ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang...................................................................................               1
Tujuan Praktikum...............................................................................               3
Manfaat Praktikum.............................................................................               3
TINJAUAN  PUSTAKA
Histologi Gonad Ikan Selar (Selaroides leptolepis)............................              5
Pengamatan Kematangan Gonad ......................................................               9
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan.........................................................................................             16
Saran...................................................................................................             16
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Histologi berasal dari bahasa Latin yaitu histo dan logos yang memiliki arti jaringan dan ilmu. Sehingga histologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari struktur jaringan sehat pada suatu organisme. Sedangkan ilmu yang mempelajari struktur jaringan abnormal atau rusak pada suatu organisme disebut histopathologi. Jaringan merupakan sekumpulan sel yang bentuk dan fungsinya sama. Jenis – jenis jaringan dasar adalah jaringan epithel, otot, tulang, darah, syaraf, lemak dan jaringan ikat. Histologi amat berperan dalam dunia perikanan, karena dapat membandingkan dengan tepat ikan yang sehat atau sakit melalui jaringan – jaringan ikan tersebut. Hal tersebut sangat membantu sektor perikanan yang kini terlalu mengeksploitasi lingkungan untuk kegiatan budidaya. Eksploitasi yang berlebihan tersebut menyebabkan munculnya bakteri dan virus yang dapat menyerang organisme budidaya, sehingga menurunkan hasil produksi. Peran histologi dan histopathologi disini menjadi sentral, karena dengan metode kerja ilmu ini dapat melihat kedalam struktur jaringan yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang (Tasyhkal, 2015).
Histologi mempelajari jaringan penyusun tubuh, kimia jaringan dan sel dipelajari dengan metode analitik mikroskopik dan kimia. Zat-zat kimia di dalam jaringan dan sel dapat dikenali dengan reaksi kimia yang menghasilkan senyawa berwarna tak dapat larut, diamati dengan mikroskop cahaya atau penghamburan elektron oleh presipitat yang dapat diamati menggunakan mikroskop elektron. Jaringan adalah kumpulan dari sel-sel sejenis atau berlainan jenis termasuk matrik antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem tertentu. Dalam tubuh jaringan ini tidak terdapat dalam satuan-satuan yang tersendiri tetapi saling bersambungan satu dengan yang lain dalam perbandingan yang berbeda-beda menyusun suatu organ dan sistema tubuh. Jaringan penyambung ditandai banyaknya bahan intersel yang dihasilkan oleh selnya; jaringan otot terdiri dari sel panjang mempunyai fungsi yaitu kontraksi dan jaringan saraf (Harjana, 2011).
Identifikasi suatu organisme diperlukan dalam pengenalan jenis berdasarkan sifat-sifat morfologi, anatomi,bahkan perilaku organisme tersebut. Identifikasi didasarkan pada karak-ter fisik dari bagian-bagian tubuh. Karakter yang umum digunakan untuk mengidentifikasi pada ikan  adalah perpaduan antara penggunaan karakter morfometrik, meristik dan pola pewarnaan tubuh dengan membandingkan warna tubuh ikan dengan ikan yang lainnya (Yasir dkk., 2010).
Ikan ciri khasnya adalah mempunyai tulang belakang, insang dan sirip, dan terutama ikan bergantung dengan air sebagai medium dimana tempat mereka tinggal. Ikan memiliki kemampuan di dalam air bergerak dengan menggunaka sirip untuk menjaga keseimbangan tuuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air. Dalam keluarga hewan bertulang belakang /vetebrata ikan menempati jumlah terbesar hingga sekarang terdapat sekitar 25.000 spesies yang tercatat, walaupun perkiraannya ada pada kisaran 40.000 spesies, yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo (Burhanuddin, 2012).
            Tingkat kematangan gonad adalah tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Informasi mengenai tingkat kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan yang matang gonad dengan ikan yang belum matang gonad dari stok ikan di perairan, selain itu dapat mengetahui waktu pemijahan, lama pemijahan dalam setahun, frekuensi pemijahan dan umur atau ukuran ikan pertama kali matang gonad. Ukuran matang gonad tiap spesies ikan berbeda-beda dan juga pada spesies yang sama jika tersebar pada lintang yang berbeda lebih dari lima derajat akan mengalami perbedaan ukuran dan umur pertama kali matang gonad. Faktor yang mempengaruhi saat pertama kali ikan matang gonad ada dua yaitu faktor luar seperti suhu dan arus serta faktor dalam seperti umur, jenis kelamin, perbedaan spesies, ukuran dan sifat-sifat fisiologis ikan seperti kemampuan beradaptasi dengan lingkungan (Sheima, 2011).
            Dalam perikanan pencatatan perubahan atau tahap-tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi dan yang tidak. Dari pengetahuan tahap kematangan gonad ini juga akan didapatkan keterangan bilamana ikan itu akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Mengetahui ukuran ikan untuk pertama kali gonadnya menjadi masak ada hubungannya dengan pertumbuhan ikan itu sendiri dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Ukuran dan umur ikan menjadi tanda masak gonad, apakah ikan sudah dewasa atau belum, memijah atau belum, kapan masa pemijahannya, berapa lama saat pemijahannya, berapa kali pemijahannya dalam satu tahun dan sebagainya. Umumnya pertambahan berat 8
gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan pada ikan jantan sebesar 5-10% (Yanti, 2012).        
Tujuan Praktikum
            Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut
1.   Untuk mengetahui faktor kematangan gonad ikan
2.   Untuk mengetahui perbedaan struktur pada tiap tingkat kematangan gonad ikan jantan.
3.   Untuk mengetahui perbedaan struktur pada tiap tingkat kematangan gonad ikan betina.

Manfaat Praktikum
            Manfaat dari penulisan makalan ini adalah sebagai sumber informasi tentang tingkat kematangan gonad ikan berdasarkan histologinya bagi pihak yang membutuhkan.




TINJAUAN PUSTAKA
Histologi Gonad Ikan 
            Histologi berarti suatu ilmu yang menguraikan struktur dari hewan secara terperinci dan hubungan antara struktur pengorganisasian sel dan jaringan serta fungsi-fungsi yang mereka lakukan. Cara pembuatan preparat histologis disebut mikroteknik. Pembuatan preparat dari suatu jaringan dimulai dengan operasi, biopsi atau autopsi. Jaringan yang diambil kemudian diproses dengan fiksasi yang akan menjaga agar preparat tidak akan rusak (bergeser posisinya, membusuk, atau rusak). Sampel jaringan yang telah terfiksasi direndam dalam cairan etanol (alkohol) bertingkat untuk menghilangkan air dalam jaringan (dehidrasi). Selanjutnya sampel dipindahkan ke dalam toluena untuk menghilangkan alkohol (dealkoholisasi). Langkah terakhir yang dilakukan adalah memasukkan sampel jaringan ke dalam parafin panas yang menginfiltrasi jaringan. Selama proses yang berlangsung selama 12-16 jam ini, jaringan yang awalnya lembek akan menjadi keras sehingga lebih mudah dipotong menggunakan mikrotom. Pemotongan dengan mikrotom ini akan menghasilkan lapisan dengan ketebalan 5 mikrometer. Lapisan ini kemudian diletakkan di atas kaca objek untuk diwarnai              (Manalu, 2014).
            Tingkat kematangan gonad adalah tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Informasi mengenai tingkat kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan yang matang gonad dengan ikan yang belum matang gonad dari stok ikan di perairan, selain itu dapat mengetahui waktu pemijahan, lama pemijahan dalam setahun, frekuensi pemijahan dan umur atau ukuran ikan pertama kali matang gonad. Ukuran matang gonad tiap spesies ikan berbeda-beda dan juga pada spesies yang sama jika tersebar pada lintang yang berbeda lebih dari lima derajat akan mengalami perbedaan ukuran dan umur pertama kali matang gonad. Faktor yang mempengaruhi saat pertama kali ikan matang gonad ada dua yaitu faktor luar seperti suhu dan arus serta faktor dalam seperti umur, jenis kelamin, perbedaan spesies, ukuran dan sifat-sifat fisiologis ikan seperti kemampuan beradaptasi dengan lingkungan (Sheima, 2011).
Gonad adalah bagian dari organ reproduksi pada ikan yang menghasilkan telur pada ikan betina dan sperma pada ikan jantan. Ikan pada umumnya mempunyai sepasang gonad dan jenis kelamin umumnya terpisah. Ikan memiliki ukuran dan jumlah telur yang berbeda, tergantung tingkah laku dan habitatnya. Sebagian ikan memiliki jumlah telur banyak, namun berukuran kecil sebagai konsekuensi dari kelangsungan hidup yang rendah. Sebaliknya, ikan yang  memiliki jumlah telur sedikit, ukuran butirnya besar dan kadang-kadang memerlukan perawatan dari induknya. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama itu sebagian besar hasil metabolisme tertuju kepada perkembangan gonad. Dalam individu telur terdapat proses yang dinamakan vitellogenesis yaitu terjadinya pengendapan kuning telur pada tiap individu-individu telur. Hal ini menyebabkan perubahan-perubahan pada gonad. Umumnya pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan pada ikan jantan sebesar 5-10% (Manalu, 2014).
            Menurut Diana (2007) pengamatan kematangan gonad dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan membuat irisan gonad dan diamati struktur histologisnya, melihat morfologi gonad secara visual. Pengamatan morfologi gonad pada ikan betina berupa : bentuk ovarium, besar-kecilnya ovarium, pengisian ovarium dalam rongga tubuh, warna ovarium, halus-tidaknya ovarium, secara umum ukuran telur dalam ovarium, kejelasan bentuk dan warna telur dengan bagianbagiannya, ukuran (garis tengah) telur, dan warna telur. Sedangkan untuk ikan jantan yang diamati berupa : bentuk testis, besar-kecilnya testis, pengisian testis dalam rongga tubuh, warna testis, keluar-tidaknya cairan dari testis (dalam keadaan segar). Tingkat kematangan gonad (TKG) secara umum adalah sebagai berikut: TKG I (immature), TKG II (maturing), TKG III (maturing ripe), TKG IV (ripe), dan TKG V (spent) dengan deskripsi :
TKG
Tahapan
Visual
Mikroskopis
I
Immature
Ovari kecil dan testis 1/3 dari rongga badan, bentuk telur oval. Warna ovari merah muda, transparan, testis keputihan.
Telur kecil, tidak nampak oleh mata telanjang, diameter 1-16 mm, transparan.
II
Maturing
Ovari kecil dan testis 1/2 dari rongga badan, memanjang. Warna ovari merah muda, transparan, testis keputihan agak simetris.
Telur tidak tampak oleh mata telanjang, telur jernih, ukuran diameter 10-21mm.
III
Maturing
Ripe
Ovari kecil dan testis 1/2-2/3 dari rongga badan, kanan dan kiri gonad tidak simetris. Warna ovari kuning, tampak granula dan pembuluh darah di permukaan, testis warna keputihan.
Telur tampak buram tidak transparan, ukuran diameternya 29-52 mm.
IV
Ripe
Ovari dan testis 2/3 sampai penuh dalam rongga badan, warna orange-merah muda, testis abu abu dan lembut.

Telur masak semi transparan, ukuran diameternya 45- 70 mm.
V
Spent
Ovari dan testis 2/3 sampai penuh dalam rongga badan, warna orange-merah muda, pembuluh darah di permukaan, testis abuabu dan lembut.
Telur masak semi transparan, ukuran diameternya 51- 93 mm.
            Gonad TKG 1 secara histologis inti sel berbentuk lonjong terletak di tengah dikelilingi oleh sitoplasma. Ovari belum matang dan diameter telurnya masih sangat kecil. Gonad belum matang dan didominasi oogonium yang belum terlihat jelas serta oosit. Gonad TKG 2 secara histologis mulai terlihat oosit yang berselaput dan terlihat adanya nukleolus yang mulai besar. Ovarium didominasi oleh oosit primer namun masih ditemukan adanya oogonium. Telah terjadi tahap awal pembentukan kuning telur. Gonad TKG 3 seacara histologis dinding butir telur menebal dan nucleus mulai terlihat dengan jumlah ootid yang semakin banyak. Oosit stadia 3 bergranula kuning telur dimulai dari inti kemudian menyebar ke tengah dan terdesak ketepi, terdapat butiran minyak, oosit berkembang menjadi ootid, dan diameternya membesar. Gonad TKG 4 secara histologis nukleusnya telah terlihat jelas. Ootid berkembang menjadi ovum Ovarium didominasi oleh ovum, inti sel bergerak ke tepi mendekati mikropil. Terdapat terdapat butiran minyak dan kuning telur (Sheima, 2011).
            Tingkat Kematangan Gonad (TKG I) merupakan fase istirahat/resting phase. Secara morfologis tidak terlihat adanya gonad yang tampak pada bagian luar maupun pada bagian dalam, sehingga pada fase ini tidak dapat ditentukan jenis kelaminnya. Tingkat kematangan gonad (TKG) II merupakan fase perkembangan (developing phase), gonad secara morfologis, berwarna putih, memanjang dari bagian posterior sampai anterior, tipis (tebalnya kurang dari 3 mm) dan tidak penuh di bagian dalam. Tingkat kematangan gonad (TKG) III merupakan tahap pematangan gamet (maturing phase). Secara morfologis, testis berwarna putih susu, testis tebal (3 mm). Tingkat kematangan gonad (TKG) IV merupakan tahap salin sebagian (pemijahan sebagian (partially spent phase). Secara morfologis, testis menyerupai bercak-bercak, di bagian dalam gonad tidak begitu penuh (mengempis). (TKG) V, merupakan tahap salin sempurna (full spent phase), secara morfologis tidak tampak adanya gonad di bagian luar, tetapi di bagian dalam masih terdapat sisa gonad yang akan diserap kembali oleh tubuh, sebelum masuk ke fase selanjutnya, yaitu fase istirahat (Angriani, 2011).
Pengamatan Kematangan Gonad
Pengamatan kematangan gonad dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan membuat irisan gonad dan diamati struktur histologisnya, melihat morfologi gonad secara visual. Pengamatan morfologi gonad pada ikan betina berupa: bentuk ovarium, besar-kecilnya ovarium, pengisian ovarium dalam rongga tubuh, warna ovarium, halus-tidaknya ovarium, secara umum ukuran telur dalam ovarium, kejelasan bentuk dan warna telur dengan bagian bagiannya, ukuran (garis tengah) telur, dan warna telur. Sedangkan untuk ikan jantan yang diamati berupa: bentuk testis, besar-kecilnya testis, pengisian testis dalam rongga tubuh, warna testis, keluar-tidaknya cairan dari testis (dalam keadaan segar). Tingkat kematangan gonad (TKG) secara umum adalah sebagai berikut: TKG I (immature), TKG II (maturing), TKG III (maturing ripe), TKG IV (ripe), dan TKG V (spent) (Diana, 2007).
Sampel gonad ditimbang dengan ketelitian 0,001 g dan diawetkan dengan formalin 10%. Untuk membuat preparat histologi, sampel gonad yang telah diawetkan tersebut dikeringkan/ditiriskan, dipotong melintang dan direndam dalam alkohol 70%. Untuk proses histologi setiap sampel didehidrasi dengan menggunakan alkohol berseri, dijernihkan dengan xylene, dan dipendam dalam parafin. Selanjutnya gonad diiris setebal 6 mikron dan diberi pewarnaan hematoxylen dan eosin. Histologi gonad yang sudah siap diamati dibawah mikroskop untuk ditentukan tingkat kematangannya (Sembiring dkk, 2014).
Tabel 1. Gonad Jantan
No.
Gambar
Keterangan
1.
TKG I :
- Sperma masih tampak bening dan bertekstur halus
- Selnya belum berdiferensiasi
- Pinggiran selnya berbentuk gerigi
2.
TKG 2 Jantan.jpg
TKG II :
- Sel-sel sperma mulai tampak dan membesar
- Lebih jelas dari TKG I, namun inti belum tampak jelas
3.
TKG 3 Jantan.jpg
TKG III :
- Inti sel mulai membesar dan terlihat dengan jelas
- Mulai terlihat alur-alur di bagaian dalam sel
4.
TKG 4 Jantan.jpg
TKG IV :
- Ukuran sel tampak besar
- Alur-alur pada testis semakin jelas dan nyata
- Ukuran mencapai maksimal
5.
TKG 5 Jantan.jpg
TKG V :
- Ukuran sel tampak besar
- Alur-alur pada testis semakin jelas dan nyata
- Ukuran mencapai maksimal

Tabel 2. Gonad Betina
No.
Gambar
Keterangan
1.
TKG 1 Betina.jpg
TKG I :
- Ovarium masih terlihat polos tanpa inti
- Ukuran gonad kecil 
- Berbentuk seperti cairan
2.
TKG 2 Betina.jpg
TKG II :
- Ukuran gonad mulai membesar
- Lebih jelas dari TKG I
- Bentuk sel mulai terlihat dan tersusun
3.
TKG 3 Betina.jpg
TKG III :
- Inti sel pada gonad sudah terlihat dan ada yang mulai matang namun jumlahnya sedikit
- Ukuran belum mencapai maksimal
4.
TKG 4 Betina.jpg
TKG IV :
- Gonad membesar mencapai ukuran maksimal
- Inti sel sudah terlihat jelas dan banyak yang terlihat matang
- Mulai terlihat rongga-rongga tempat pelepasan telur
5.
TKG 5 Betina.jpg
TKG V :
- Gonad membesar mencapai ukuran maksimal
- Inti sel sudah terlihat jelas dan banyak yang terlihat matang
- Mulai terlihat rongga-rongga tempat pelepasan telur

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
               Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.   Faktor yang mempengaruhi ikan pertama kali matang gonad yaitu faktor luar seperti suhu dan arus serta faktor dalam seperti umur, jenis kelamin, perbedaan spesies, ukuran dan sifat-sifat fisiologis ikan seperti kemampuan beradaptasi dengan lingkungan.
2.   Gonad ikan jantan pada tahap perkembangan awal atau TKG I memiliki bentuk sperma yang masih tampak bening dan selnya belum berdiferensiasi dan pada TKG V ukuran sel telah mencapai maksimal dan alur-alur pada testis terlihat jelas.
3.  Gonad ikan betina pada TKG I memiliki ovarium yang masih terlihat polos tanpa inti, ukuran gonad kecil serta berbentuk seperti cairan dan pada TKG IV gonad telah membesar, kebanyakan telah terlihat matang serta tampak rongga-rongga tempat pelepasan gonad.
Saran
Saran saya agar potensi alam yang ada dalam perairan Indonesia lebih terjaga dan lebih di perhatikan lagi demi meningkatkan kualitas sumberdaya perairan itu sendiri, dan dapat menjadi salah satu ciri khas Negara Indonesia.











DAFTAR PUSTAKA
Agriani, W. 2011. Nisbah Kelamin, Tingkat Kematangan Gonad, dan Indeks Kematangan Gonad Kerang Hijau (Perna viridis Linnaeus, 1758) di Perairan Mandalle, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. [Skripsi]. Universitas Hasanuddin, Makassar.
Burhanuddin, A.I. 2008. Peningkatan Pengetahuan  Konsepsi  Sistematika  dan Pemahaman  Sistem Organ  Ikan yang Berbasis SCL Pada Matakuliah  Ikhtiologi. LKPP Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.
Diana, E. 2007. Tingkat Kematangan Gonad Ikan Wader (Rasbora Argyrotaenia) di Sekitar Mata Air Ponggok Klaten Jawa Tengah. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Harjana, T. 2011. Histologi. Universitas Negri Yogyakarta, Yogyakarta.
Manalu, T. N. 2014. Pengamatan Histologi Gonad Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis). Universitas Sumatera Utara, Medan.
Maulana, R. A. 2012. Perubahan Kondisi Fisiologis Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Akibat Pengaruh  Perbedaan Ukuran dan  Suhu Lingkungan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sembiring, S. B. M., R. Andamari, A. Muzaki, I. K. Wardana, J. H. Hutapea dan N. W. W. Astuti. 2014. Perkembangan Gonad Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus Leopardus) yang dipelihara dalam Keramba Jaring Apung. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol 6  (1): 53-61.
Sheima, I. A. P. 2011. Ksploitasi dan Variasi Temporal Reproduksi Ikan Banban di Pantai Utara Jawa pada Bulan April Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Laju Eksploitasi dan Variasi Temporal Reproduksi Ikan Banban (Engraulis Grayi) Betina di Pantai Utara Jawa pada Bulan April-September. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sheima, I. A. P. 2011. Laju Eksploitasi Dan Variasi Temporal Keragaan Reproduksi Ikan Banban (Engraulis Grayi) Betina di Pantai Utara Jawa Pada Bulan April-September. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Yanti, K. 2012. Hubungan Bobot Tubuh dan panjang total Ikan Bilih
(Mystacoleucus padangensis). [Skripsi] Jurusan Biologi Universitas Gunadarma, Bandung.
Yasir, I., Syaifuddin dan Sumarjito. 2010. Identifikasi Jenis Ikan Anemon (Amphiprioninae) Dan Anemon Simbionnya di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 2(2). Hal: 10-16.