RSS

AWALNYA



Saat mengenalmu aku baru tau itu cinta, aku baru tau itu rasa
mengoreskan tinta-tinta berwarna rindu di atas sebuah kanvas asmara
 memadukan kasih dengan sayang,mincaptakan melodi dalam petikan dawai-dawai nan syahdu
menyanyikan syair dalam setiap deguban jantung
hei kau pria cantik di ujung jalan, aku mengenalmu lebih dari yang kau tau
aku mulai menumbuhkan benih di sebuah taman cinta ini
takku tau kau berbeda, mampu memikat hati dan seluruh perhatianku padamu
Mengendap-endap masuk dalam ruang hampa yang ku sebut hati
oh indah, cinta memiliki nilai estetika
mampu merubah hidup menjadi lebih berwarna.
namun sayang...
waktu demi waktu menghantarkanmu pada tabiat aslimu
menghantarkan ruang hampa penuh warna masuk kedalam perihnya luka
Cinta...
kau kejam, menusuk semakin dalam perasaan ku
menghancurkan menara-menara impianku denganmu
wahai engkau sang penguasa hati, apakah rasa ini terlalu suci untuk kau khianati
mengapit dua rasa yang jauh berbeda.
cinta dan benci ? apakah ini yang kau sebut kebahagiaan?
wow!!
sangat jauh berbeda dengan apa yang kau janjikan dahulu.
kau memanipulasi keadaan sedeikian rupa hingga aku terjerat dalam gelombang-gelombang asmara
tanpa dosa, tanpa rasa bersalah kau masuk dan merusak semua memori yang tlah penuh dengan kenangan indah ku
menyakitkan, perih, dan tak bisa tertahankan
tapi aku tak tau, apapun itu, dan seberapa besarpun kesakitan itu?
namun rasa  ini masih seperti yang dulu, mencintaimu tanpa tepi
atau mungkin aku mencintaimu dalam keegoisanku?


__end__


Melepasmu


Yang mereka katakan mungkin benar
saat sebuah cinta mulai terpisah oleh jarak 
sang surya akan tertawa dan berkata
akankah ia mencintaimu dengan jarak berjuta kilometer yang kan memisah kalian?
aku merenung dalam hening
sebuah pemikiran yang muncul itu tak ku sangka akan memperburuk perasaanku
ku tatap ke depan dan terbesit
mungkinkah kau akan setia saat jarak itu berpacu dalam rindu?
tak ku sangka gumpalan air menetes dari bawah kelopak mataku
Tuhan akankah cinta ini sejati?
aku tak sanggup membendung kesedihan itu
saat lambaian tangan itu mulai terlihat samar dalam bayang
sudah mulai tak tampak dan semakin lama hilang
guratan-guratan senyum kecil itu pun mulai memudar dari pandangan
dan akankah juga memudar dari ingatan
oh Tuhan aku tak sanggup membayangkannya
Tak sanggup jika raga ini tak dapat merasakan hangatnya pelukan itu
lembutnya belaian itu 
ku hela nafas dalam-dalam dan mulai merenung sejenak
saat kita jauh, akankah kau tetap memikirkan bunga ini?
dan akankah kata rindu slalu terbesit di benakmu
aku mulai tak kuasa menahan deraian air mata yang terus berhamburan
seakan memenuhi ruangan  hampa tempat saat terakhir kali ku lihat lambaian itu
yang ku tahu sekarang kau mencintaiku 
yang ku mau kau selalu untukku
menemani setiap detik yang berat ini.
pergilah sayang cinta ini akan terus bersemayam dalam kalbu
meski saat sang waktu tak lagi berbicara padaku
aku akan tetap mencintaimu 


Untuk Hasian

Senja itu yang akan menutup kisah kita,
menutup lembar-lembar kisah kita,
 membagi jiwa kita menjadi dua bagian
membawa hati ini menuju selatan
aku kehilangan arah tersesat dan tak tahu tujuan
saat kedua bola mata ini tak lagi dapat melihat guratan-guratan senyummu
menyaut lambayian tangan elok nan gemulai
memisah gumpalan udara di angkasa
saat itu aku tak lagi bisa ada di dekatmu
saat dekapan itu mulai terlepas dari bahuku
saat dua bola mata itu tak lagi memandangku
dan saat bibir itu tak lagi menciumku
hanya bayang yang menemani ku di antara bulan dan malam
hanya bintang yang menyinariku di tengah sepiku
sayang
segeralah kembali, tak sanggup raga ini berpisah darimu
tak sanggup jiwa ini melepas kepergianmu
membagimu dengan waktu dan jarak
membagi mu dengan cinta dan rindu
gertakan langkah itu menghantarkanmu menuju masa depan,
maka haruslah aku saggup melepasmu.
Sayang, pelihara mata pelihara hatimu
Ingat aku disini menunggu di ujung lorong dengan berjuta cinta dan kesetiaan
Aku mencintaimu